Tuhan… hari
ini aku akan menyampaikan apa yang ada didalam hati dan pikiranku.
Setiap hati
pasti akan selalu menginginkan bahagia , tapi kenapa tidak terjadi padaku?
Disetiap hariku, aku selalu merasakan sakit & pedihnya hidup. Iya memang
itu namanya hidup, bukan aku tak sanggup untuk hidup di dunia . Tapi orangtuaku
, mereka yang membuat aku tak sanggup hidup. Tuhan tahu kan? Bagaimana
perlakuan mereka terhadapku? Bukan mereka menyiksa dan memukuliku, tapi mereka
hanya tidak pernah mengerti bagaimana aku. Mereka hanya sibuk dengan status
sosial dan kehidupan pribadi mereka masing-masing. Tapi bagaimana aku? Apa aku
dipedulikan? Apa di hati dan pikiran mereka masih tertulis namaku? Ah, sudahlah
kupikir mereka sudah mencoba menghapus dan melupakannya.
Mamaku ,
iya MAMA, aku sangat menyayanginya , tapi itu dulu, berbeda dengan sekarang.
Bukan aku membencinya tapi aku tidak pernah suka dengan Mamaku yang selalu
menyakiti hatiku. Sepulang sekolah, sesampaiku dirumah, setiap kali aku bertemu
mama, ia tidak pernah menyambutku dengan senyum manis, wajah suram yang selalu
kulihat. Kenapa? Kenapa memasang wajah suram? Kupikir dia tidak menyukai
kehadiranku dirumah dan atau sama dengan dia telah membenci dan melupakanku,
right?. Ia hanya peduli dengan suaminya atau lebih akrab lagi papa tiriku dan
adikku yang masih kecil. “Sebenarnya Mama tidak pernah mengerti aku, aku kangen
Mama yang dulu! Mama yang selalu ada! Mama yang khawatir disaat aku lagi sakit!
Mama yang selalu mendukungku! Mama yang setia untuk menemani dan menjagaku!
Sekarang, mana? Bukan Mama yang selalu
memanggil dan meminta anaknya menyapu, mengambil dan membawakan barang,
membentak , memarahi, menjadikannya seperti budak, dan tidak ada sedikitpun
kasih sayang yang aku rasakan!” Ingin sekali aku bisa membuka sedikit saja
pintu hatiku dan mengatakan tulisan yang terurai tersebut kepada Mama, tapi
layaknya memeluk gunung tangan tak sampai , dan berakhir dengan tetesan deras
air mata.
Ayahku, iya
AYAH, aku juga sangat menyayanginya, lebih dari aku menyayangi Mamaku, karena
dia sangat mempedulikanku, sekejam apapun Ayahku , sekeras apapun Ayahku, dia
tetap bisa membimbingku. Tapi kenapa? Ayah selalu membenci Mamaku. “Ayah sangat
benci sekali dengan sifat dan perbuatan ibukmu vi!” Kata-kata itu memang benar,
tapi aku-pun menjawab “Tapi, Dia tetap ibuku yah dan ayah yo juga Ayahku”
Kadang, aku
juga kurang suka dengan keras dan ketatnya Ayah mendidikku , tapi kata Ayah
semua itu Ayah lakukan untuk menjadikanku seseorang yang bermasa depan cerah.
Ayah memang bekerja keras untuk membiayai sekolahku. Tapi kenapa berbeda dengan
ibu-ku, Kenapa dia tidak pernah menanyakan keuanganku? Kenapa dia tidak pernah
mengontrol jatah yang seharusnya aku pakai untuk kepentingan sekolah dan
pribadiku . Ah memang sudah lupa , mungkin hati dan jiwanya sudah di butakan.
Dan itu juga yang seringkali membuat Ayahku marah. Aku hanya bisa diam dan meratapi saja.
Memang
perlakuan Mama sekarang ini berbeda , kalau dulu ia adalah seseorang yang
sangat rajin shalat dan pandai mengaji , perbuatan yang dilakukan pun baik ,
dan tidak pernah keluar rumah. Tapi berbedalah dengan sekarang Ia sudah jarang
sekali melakukan sholat dan mengaji. Padahal aku juga pernah mengingatkannya.
Ya mungkin
memang itu semua nasib dan hidupku, bersyukur sekali apabila orangtua masih ada
dua-duanya pasti akan aku jaga sampai akhir hayat hidupku. Tapi tidak sekarang
kedua orangtuaku sudah memilih takdir untuk mereka berdua. Tapi bagaimana aku?
Apa aku dipikirkan? Memang enak sekali rasanya menjadi orangtua yang sudah
bercerai, kalau Mama tidak mempedulikan anaknya pasti dia akan menyuruhnya ke
Ayahnya, kalau Ayah tidak mempedulikan anaknya pasti dia akan menyuruhnya
kerumah Mama. Ya seperti itulah yang terjadi kepadaku, layaknya bola yang
terkena dinding dan akhirnya terpental kembali lagi. Memang hanya bisa
merasakan takdir dan hanya ingin membahagiakan mereka berdua, meskipun mereka
sudah membuat hati ini terasa sakit dan perih tapi rasa sayang untuk mereka
tidak akan pernah lumpuh dan terhapuskan .








