Senin, 04 Maret 2013

This my real little life!


Tuhan… hari ini aku akan menyampaikan apa yang ada didalam hati dan pikiranku.
Setiap hati pasti akan selalu menginginkan bahagia , tapi kenapa tidak terjadi padaku? Disetiap hariku, aku selalu merasakan sakit & pedihnya hidup. Iya memang itu namanya hidup, bukan aku tak sanggup untuk hidup di dunia . Tapi orangtuaku , mereka yang membuat aku tak sanggup hidup. Tuhan tahu kan? Bagaimana perlakuan mereka terhadapku? Bukan mereka menyiksa dan memukuliku, tapi mereka hanya tidak pernah mengerti bagaimana aku. Mereka hanya sibuk dengan status sosial dan kehidupan pribadi mereka masing-masing. Tapi bagaimana aku? Apa aku dipedulikan? Apa di hati dan pikiran mereka masih tertulis namaku? Ah, sudahlah kupikir mereka sudah mencoba menghapus dan melupakannya.
Mamaku , iya MAMA, aku sangat menyayanginya , tapi itu dulu, berbeda dengan sekarang. Bukan aku membencinya tapi aku tidak pernah suka dengan Mamaku yang selalu menyakiti hatiku. Sepulang sekolah, sesampaiku dirumah, setiap kali aku bertemu mama, ia tidak pernah menyambutku dengan senyum manis, wajah suram yang selalu kulihat. Kenapa? Kenapa memasang wajah suram? Kupikir dia tidak menyukai kehadiranku dirumah dan atau sama dengan dia telah membenci dan melupakanku, right?. Ia hanya peduli dengan suaminya atau lebih akrab lagi papa tiriku dan adikku yang masih kecil. “Sebenarnya Mama tidak pernah mengerti aku, aku kangen Mama yang dulu! Mama yang selalu ada! Mama yang khawatir disaat aku lagi sakit! Mama yang selalu mendukungku! Mama yang setia untuk menemani dan menjagaku! Sekarang, mana? Bukan  Mama yang selalu memanggil dan meminta anaknya menyapu, mengambil dan membawakan barang, membentak , memarahi, menjadikannya seperti budak, dan tidak ada sedikitpun kasih sayang yang aku rasakan!” Ingin sekali aku bisa membuka sedikit saja pintu hatiku dan mengatakan tulisan yang terurai tersebut kepada Mama, tapi layaknya memeluk gunung tangan tak sampai , dan berakhir dengan tetesan deras air mata.
Ayahku, iya AYAH, aku juga sangat menyayanginya, lebih dari aku menyayangi Mamaku, karena dia sangat mempedulikanku, sekejam apapun Ayahku , sekeras apapun Ayahku, dia tetap bisa membimbingku. Tapi kenapa? Ayah selalu membenci Mamaku. “Ayah sangat benci sekali dengan sifat dan perbuatan ibukmu vi!” Kata-kata itu memang benar, tapi aku-pun menjawab “Tapi, Dia tetap ibuku yah dan ayah yo juga Ayahku”
Kadang, aku juga kurang suka dengan keras dan ketatnya Ayah mendidikku , tapi kata Ayah semua itu Ayah lakukan untuk menjadikanku seseorang yang bermasa depan cerah. Ayah memang bekerja keras untuk membiayai sekolahku. Tapi kenapa berbeda dengan ibu-ku, Kenapa dia tidak pernah menanyakan keuanganku? Kenapa dia tidak pernah mengontrol jatah yang seharusnya aku pakai untuk kepentingan sekolah dan pribadiku . Ah memang sudah lupa , mungkin hati dan jiwanya sudah di butakan. Dan itu juga yang seringkali membuat Ayahku marah.  Aku hanya bisa diam dan meratapi saja.
Memang perlakuan Mama sekarang ini berbeda , kalau dulu ia adalah seseorang yang sangat rajin shalat dan pandai mengaji , perbuatan yang dilakukan pun baik , dan tidak pernah keluar rumah. Tapi berbedalah dengan sekarang Ia sudah jarang sekali melakukan sholat dan mengaji. Padahal aku juga pernah mengingatkannya.
Ya mungkin memang itu semua nasib dan hidupku, bersyukur sekali apabila orangtua masih ada dua-duanya pasti akan aku jaga sampai akhir hayat hidupku. Tapi tidak sekarang kedua orangtuaku sudah memilih takdir untuk mereka berdua. Tapi bagaimana aku? Apa aku dipikirkan? Memang enak sekali rasanya menjadi orangtua yang sudah bercerai, kalau Mama tidak mempedulikan anaknya pasti dia akan menyuruhnya ke Ayahnya, kalau Ayah tidak mempedulikan anaknya pasti dia akan menyuruhnya kerumah Mama. Ya seperti itulah yang terjadi kepadaku, layaknya bola yang terkena dinding dan akhirnya terpental kembali lagi. Memang hanya bisa merasakan takdir dan hanya ingin membahagiakan mereka berdua, meskipun mereka sudah membuat hati ini terasa sakit dan perih tapi rasa sayang untuk mereka tidak akan pernah lumpuh dan terhapuskan .